Thursday, April 2, 2020

<iframe style="width:120px;height:240px;" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" src="//ws-na.amazon-adsystem.com/widgets/q?ServiceVersion=20070822&OneJS=1&Operation=GetAdHtml&MarketPlace=US&source=ac&ref=tf_til&ad_type=product_link&tracking_id=perikalan-20&marketplace=amazon&region=US&placement=B07ND3P3SR&asins=B07ND3P3SR&linkId=6a7db44ce4f2912f46c7e5771651b178&show_border=false&link_opens_in_new_window=false&price_color=333333&title_color=0066C0&bg_color=FFFFFF">
    </iframe>

API TAK MAMPU MEMBAKAR RAMBUT MULIA RASULULLAH ο·ΊπŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’



Kisah ini disampaikan oleh al-Habib Hamid bin Abu Bakar Barakhwan saat beliau belajar di Darul Musthofa Yaman (Ma’had Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz).

Pada suatu kesempatan, beliau beserta almarhum Habibana Munzir dan beberapa rekan lainnya berkunjung kepada seseorang yang memiliki koleksi rambut baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. 

Momen yang istimewa, karena rambut mulia itu diperlihatkan kepada khalayak tanpa adanya penutup kaca. Sehingga masing-masing orang bisa melihat, mencium, dan bertabarruk pada rambut baginda Nabi 
ο·Ί.

Ada kejadian unik dari sekian banyak yang hadir, ternyata ada salah seorang yang Majedzub(nyeleneh), mungkin dalam pandangan kita orang tersebut gila, tapi sesungguhnya ia gila (gandrung) karena mahabbahnya yang begitu hebat pada Alloh dan Rosul-Nya.

Nah, tibalah orang Majedzub yang mendapat giliran mencium rambut Nabi. Namun bukannya mencium, ia malah mengeluarkan korek api lantas membakar rambut mulia tersebut.

Luar biasanya lagi, disaat yang lain berusaha mencegah tindakan si-Majedzub, sang pemilik koleksi malah tenang-tenang saja, sama sekali tak bergeming, bahkan cenderung membiarkan.

Lalu si-Majedzub ditanya kenapa melakukan tindakan tersebut (membakar rambut Nabi)? 

Katanya, “Saya hanya ingin memastikan apakah ini rambut asli Nabi atau bukan”

Sang pemilik koleksi tenang-tenang saja karena beliau sudah tahu bahwa koleksinya itu adalah ASLI peninggalan baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Dan itu terbukti, ketika api yang sempat dinyalakan oleh si-Majedzub menyentuh rambut Nabi, rambut mulia itu tidak meleleh, tidak mempan terbakar api

MasyaAlloh! Apa hikmah yang bisa kita petik dari kejadian ini?

Cahaya tidak bisa dikalahkan oleh api. Jangankan hanya api dunia, api neraka pun tak akan mampu membakar baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Beliaulah sumber cahaya, cahaya di atas cahaya.

Semoga kita semua tetap berada di dalam naungan cahaya tuntunan baginda Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

πŸ’Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin❤️

Aamiin

#GambarRambutMuliaMuhammadSAW

sunda dan jawa


 
Nama seorang penghulu masyarakat sudah disebut di artikel sebelumnya, kini kita akan lihat apa yang kepala suku itu lakukan.

Sebelum melanjutkan, ada baiknya pembaca terlebih dahulu membaca 2 artikel saya sebelumnya. Dengan judul sama bagian 1, dan artikel tentang minat baca sejarah. Tapi bila anda memilih untuk melanjutkan, tidak jadi masalah.

Aki Tirem adalah kepala suku dari masyarakat bahari. Rakyatnya punya kapal kapal yang dipakai untuk melewati ombak ombak samudra menuju tempat yang diinginkan. Pembicaraan di masyarakat ketika itu adalah kemajuan peradaban dunia. Bangunan kerajaan tinggi, kastil istana megah, juga benteng pertahanan yang perkasa.

Di sela obrolan mereka memandangi rumah, pagar pagar desa, bahkan kediaman kepala suku. Rasanya ada yang berbeda dengan objek obrolan mereka. Rasanya mereka sedang tertinggal dibanding negri yang selama ini mereka kunjungi.

Muncullah ide untuk mengambil kemajuan yang ada di negri lain untuk diterapkan di negri sendiri. Tahap ini lah yang menarik.

Mereka memandang bahwa India adalah bangsa yang tepat untuk diambil budaya nya. Karena ritual ibadah dan kepercayaannya punya kemiripan terbesar dengan yang sudah ada di Indonesia. Mereka berfikir menggabungkan kekuatan spritual yang ada di India, dan yang ada di Indonesia bisa membawa kemajuan pada masyarakat setempat.

Dari sumber yang saya baca, pikirannya tertulis demikian, "menggabungkan kekuatan spritual" dan bukan "mengambil ilmu pengetahuan". Rasanya memang kepercayaan Indonesia di zaman itu masih cukup kuat, sehingga yang muncul di kepala mereka adalah kekuatan spritual, bukan intelektual.

Disinilah hal menariknya. Bila kita teliti, di abad pertama, ataupun abad abad setelahnya, bangsa yang sudah menganut filosofi berfikir "agama" cenderung bangsa yang maju. Karena filosofi dalam beragama menuntut seseorang untuk berfikir. Barangkali memikirkan kebijaksanaan alam, penciptaan, atau sejenisnya. Dengan dorongan berfikir ini, manusia bisa memaksimalkan akalnya dan membawa kemajuan untuk bangsanya.

Karena itu, berdasarkan sejarah, rasanya tidak tepat bila gerakan meninggalkan agama disebut sebagai langkah awal kemajuan. Karena bahkan renaissance pun berawal dari ilmu bangsa Arab yang beragama Islam. Maka agama selalu menjadi faktor pertama dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan.

Setelah memutuskan untuk memanggil orang India untuk dibawa ke Indonesia. Berangkalah Aki Tirem ke India lalu pulang membawa seorang pemuda "pengajar" bernama Dewawarman. Ia sampai ke Jawa Barat dan Menikah dengan anak perempuan Aki Tirem.

Setelah Aki Tirem Wafat, barulah Dewawarman naik tahta menjadi pemimpin masyarakat. Lalu, ia mendirikan kerajaan di Jawa Barat dan menobatkan dirinya sebagai raja. Ini terjadi di abad ke 2 M, sekitar tahun 130 M.